Minggu, 01 Desember 2013

HR RASUNA SAID BERPANDANGAN LUAS, BERKEMAUAN KERAS

Setiap berangkat kerja, Saya selalu melewati jalan Rasuna Said kemudian Prapanca lalu ke tempat tujuan Saya yaitu di Lebak Bulus. Mendengar nama Rasuna Said, selalu dikaitkan dengan nama jalan yang disana terdapat bangunan-bangunan tinggi menjulang. Rasuna Said merupakan salah satu pahlawan dan Saya selalu beranggapan bahwa beliau adalah seorang laki-laki, namun kenyataannya beliau merupakan seorang pahlawan nasional perempuan dengan nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau disingkat HR Rasuna Said.
Siapakah sosok Rasuna Said sehingga diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 ?. Sosok HR Rasuna Said akan coba Saya ulas pada paragraf-paragraf selanjutnya.
Nama Pahlawan yang satu ini jarang disebut dalam buku-buku sejarah. Padahal sepak terjangnya dalam perjuangan nasional, dan kritik pedasnya terhadap kolonialisme, pernah dipuji Bung Karno di Bandung, pada 18 Maret 1958.
Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said lahir pada 14 September (versi lain tanggal 15 September) 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Meski demikian, tak gampang menemukan rumah kelahirannya. Ia merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang pengusaha dan bekas aktivis pergerakan.
Setelah menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Rasuna Said remaja dikirimkan sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani.
Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri, di Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Gerakan Thawalib adalah gerakan yang dibangun kaum reformis islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis-islam Turki, Mustafa Kamal (Kamal Attaturk).
Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah School Putri sebagai guru. Namun pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri, tapi ditolak.
Rasuna Said kemudian mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr H Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir yang nantinya banyak mempengaruhi pandangan Rasuna Said.
Kontroversi masalah poligami pernah ramai dan menjadi polemik di ranah Minang tahun 1930-an. Ini berakibat pada meningkatnya angka kawin cerai. Rasuna Said menganggap, kelakuan ini bagian dari pelecehan terhadap kaum wanita.
Awal perjuangan politik Rasuna Said dimulai dengan beraktifitas di Sarekat Rakyat (SR) sebagai Sekretaris cabang. Rasuna Said kemudian juga bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukit Tinggi pada tahun 1930.
Rasuna Said juga ikut mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI dan kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukit Tinggi.
Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.  Rasuna Said sempat di tangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.
Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.
Rasuna Said dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah, Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat, namun polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan. Sedangkan tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan tindakan kolonial ini, justru tidak bisa berbuat apapun. Rasuna sangat kecewa. Ia pun memilih pindah ke Medan, Sumatera Utara.
Pada tahun 1937, di Medan, Rasuna mendirikan perguruan putri. Untuk menyebar-luaskan gagasan-gagasannya, ia membuat majalah mingguan bernama “Menara Poeteri”. Slogan koran ini mirip dengan slogan Bung Karno, “Ini dadaku, mana dadamu”.
Koran ini banyak berbicara soal perempuan. Meski begitu, sasaran pokoknya adalah memasukkan kesadaran pergerakan, yaitu anti-kolonialisme, di tengah-tengah kaum perempuan.
Rasuna Said mengasuh rubrik “Pojok”. Tulisan-tulisan Rasuna dikenal tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang anti-kolonial.
Sebuah koran di Surabaya, Penyebar Semangat, pernah menulis perihal Menara Poetri ini, “Di Medan ada sebuah surat kabar bernama Menara Poetri; isinya dimaksudkan untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional.''
Akan tetapi, koran Menara Poetri tidak berumur panjang. Persoalannya, sebagian besar pelangganya tidak membayar tagihan korannya. Konon, hanya 10 persen pembaca Menara Poetri yang membayar tagihan. Sisanya nihil. Karena itu, Menara Poetri pun ditutup. Pada saat itu, memang banyak majalah atau koran yang tutup karena persoalan pendanaan. Rasuna memilih pulang ke kampung halaman, Sumatera Barat.
Pada jaman penjajahan Jepang, Rasuna Said sempat terlibat dalam pergerakan bawah tanah. Namun, pada saat Jepang membangun organisasi massa, Rasuna pun tergerak untuk menggunakan orgasisasi massa itu untuk kepentingan pergerakan.
Rasuna bergabung dengan Gyu Gun Ko En Kai. Organisasi ini banyak menghimpun aktivis pergerakan. Di organisasi ini, Rasuna lagi-lagi kebagian urusan “propaganda”.
Meski bekerja di organisasi massa yang dibuat Jepang, bukan berarti Rasuna melemah di hadapan fasis itu. Pada suatu hari, kepada seorang perwira Jepang yang menegur aktivitasnya, Rasuna berkata begini: “Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang perang. Tetapi di sini (sambil menunjuk dadanya), tertanam pula Indonesia Raya.”
Selepas proklamasi kemerdekaan, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI). Ia juga sempat menjadi anggota Front Pertahanan Nasional di Bukit Tinggi.
Pada saat sidang KNIP (parlemen Indonesia jaman itu) di Malang, Jawa Tengah, Rasuna terpilih sebagai wakil Sumatera. Ia juga sempat ditunjuk sebagai Badan Pekerja KNIP.      
Pada saat itu, Rasuna sebetulnya sudah menikah. Akan tetapi, karena Ia terlanjur meleburkan diri dalam pergerakan, Rasuna jarang bertemu dengan suaminya. Ia pun bercerai.
Rasuna kemudian menikah lagi dengan seorang aktivis kiri, Bariun AS. Akan tetapi, pernikahan dengan orang Medan ini juga tidak berumur panjang. Ia kembali bercerai. Rupanya, Rasuna terlanjur hidup di alam pergerakan.
Rasuna sendiri adalah pendukung setia Bung Karno. Pada saat pemberontakan PRRI-Permesta meletus, Rasuna merupakan salah satu tokoh pejuang Sumatera Barat yang memihak NKRI dan Bung Karno. Banyak kawan akrabnya, bahkan bekas suaminya, menjadi pendukung PRRI-Permesta.
Kegigihan itulah yang membuat Bung Karno kagum pada pejuang dari Sumatera Barat ini. Dalam sebuah pidato di Bandung, 18 Maret 1958, di hadapan puluhan ribu massa, Bung Karno memuji kegigihan perjuangan Rasuna Said.
Karena itu, pada 11 Juli 1957, Bung Karno menunjuk Rasuna Said sebagai anggota Dewan Nasional mewakili golongan perempuan. Di situ, ia tetap menunjukkan sikap politik yang tegas: nasionalis anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.
Akhirnya, di tengah politik yang sedang memanas dan kepungan imperialis yang kian nyata, Rasuna Said berpulang. Tepatnya pada tanggal 2 November 1965. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

HIKMAH YANG DAPAT DIAMBIL
Berdasarkan cerita diatas, seperti halnya RA Kartini dan Dwi Sartika, perjuangan Rasuna juga patut mendapatkan apresiasi yang dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Indonesia saat ini. Emansipasi wanita yang ia tegakkan sebagai bagian dari upayanya untuk menegakkan kesetaraan gender yang selama beberapa dekade berada dalam kekuasaan patriarkhi (yaitu sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama).
Rasuna merupakan simbol pejuang perempuan, yang tidak saja pandai bicara (orator) tapi juga seorang yang ahli dalam mengorganisasi. Hal itu, ia tunjukkan dengan terlibat dalam banyak kegiatan perjuangan dan sekolah-sekolah. Keikutsertaannya dalam berbagai organisasi patut ditiru oleh kaum perempuan, bahkan seluruh masyarakat tanpa pandang gender patut meniru beliau yang selalu berorganisasi untuk pencapaian hasil bersama yang baik. Dan satu hal lagi, bahwa Rasuna Said juga seorang penulis. Terbukti, beliau mampu mendirikan majalah Menara Putri dan berperan sebagai seorang pemimpin redaksi pada Majalah Raya. Dengan kemampuannya ini, tak mampu disangkal beliau adalah seorang multi talenta. Hal lain yang patut ditiru dari diri beliau, selain berorganisasi beliau juga tidak lupa akan kegemaran beliau yaitu menulis, jika suatu keinginan baik dikaitkan dengan kegemaran maka jadilah sesuatu yang berguna bagi orang banyak.
Beliau adalah seorang penganut idealisme yang kuat. Untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini dari tangan penjajah Belanda dan Jepang serta tegaknya emansipasi wanita, ia sampai-sampai dipenjara. Disisi lain seorang wanita selalu berada dirumah mengurusi keluarga, tapi beliau berani keluar dan berjuang menentang kekerasan dan ketidakadilan. Dan penjara pun gagal menghancurkan tekad perjuangan beliau.
Eksistensi di Dewan Perwakilan Sumatera dan anggota DPR-RIS juga menjadi nilai tambah untuk ditiru oleh kaum perempuan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, bahwa jika kita ingin mengubah bangsa ini menjadi suatu bangsa yang lebih baik, kita jangan lelah untuk terus berusaha dari bidang lingkup yang kecil hingga yang merambah ke lingkup yang lebih besar.
Masih banyak yang patut ditiru dari diri beliau, sebagai penghormatan atas perjuangannya, nama beliau diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang termasuk bagian segi tiga emas Jakarta. 


Sumber : http://daerah.sindonews.com/read/2013/11/08/24/803163/rasuna-said-perempuan-radikal-dari-tanah-minang

Tidak ada komentar: